Tag-Archive for » sejarah SMA 1 Slawi «

Monday, December 21st, 2009 | Author: admin
Pada tahun 1960, sejumlah tokoh pendidikan di Kota Slawi, Kabupaten Tegal, dirundung kegelisahan. Maklum, sejak SMP 1 Slawi berdiri tahun 1957, kota ini belum memiliki sekolah lanjutan atas seperti SMA atau SMEA. Tak hanya para tokoh, masyarakat Slawi secara umum pun sangat merindukan hadirnya SMA yang mampu menciptakan kesinambungan pendidikan dari jenjang SMP ke SMA.
Ada salah satu tokoh Slawi yang menaruh perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Dialah Marnadi (almarhum) yang kala itu memimpin partai PNI dan figurnya sangat berpengaruh di Pemerintah kota Slawi. Marnadi bersama sejumlah tokoh pendidikan, mengusulkan kepada Bupati Tegal Soetoro, agar didirikan sekolah lanjutan atas sesuai aspirasi masyarakat Slawi.
Gayung pun bersambut. Tak menunggu waktu lama, bupati pun membentuk Panitia Pendiri Sekolah-sekolah Lanjutan Atas yang diketuai oleh Umar Kasan, seorang wedana yang diangkat menjadi patih (setingkat wakil bupati). Sekretaris panitia dipegang Soetarjo,yang menjabat sebagai wedana slawi sedangkan Marnadi ditugasi menjadi bendahara,seksi pembangunan. Kepanitiaan juga dilengkapi dengan seksi pendidikan yang dipercayakan kepada Imam Sudjaki (kepala SMP 1 Slawi) bersama Samsuri Gandakusuma (guru di SMP 1 Slawi).

Cita-cita para tokoh Kota Slawi, baru menampakkan hasilnya pada tahun 1962. Setelah melalui diskusi panjang dan melelahkan bersama guru di SMA Negeri Tegal, dibentuklah SMA Negeri Slawi filial SMA Negeri Tegal dengan nama SMA Persiapan Negeri Slawi.
Sesuai skenario, Imam Sudjaki yang saat itu memimpin SMP 1 Slawi akan diplot menjadi kepala SMA Persiapan Slawi. Namun lantaran saat penerimaan murid baru, yang bersangkutan diangkat menjadi kepala SMP Klampok, Banjarnegara, maka kendali SMA Persiapan itu dipercayakan kepada Samsuri Gandakusuma. Samsuri pun ditugasi menjadi kepala sekolah.
”Saya masih ingat waktu bulan puasa dan tahun ajaran baru tahun 1962. Usia saya masih 30 tahun saat ditugasi menjadi kepala SMA Persiapan Negeri Slawi,” kenang Samsuri, salah saksi sejarah berdirinya SMA Negeri 1 Slawi, sekolah yang kini bersatus Rintisan Sekolah Berstandar Internasional.

Di bawah pimpinan Samsuri, SMA Persiapan yang menempati tanah milik Brigif IV itu, mulai melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Pertama kali SMA ini ‘beroperasi’, hanya terdiri atas empat kelas, dengan 40 siswa perkelasnya. Para guru pun kebanyakan ‘pocokan’ seperti Sikoen Emidjojo, Ramdan, Khadimin, Arzani, Mukijo dan lain-lain. Tenaga TU pun hanya satu yaitu Fatimah dibantu oleh satu pesuruh yaitu Sirya, orang Dukuh Salam.
Ketika SMA Persiapan berdiri, saat itu tengah terjadi perubahan sistem pendidikan di SMA, dari SMA yang berstatus SMA A, B, C, D diubah menjadi SMA gaya baru dengan SMA dengan 4 Jurusan tapi satu sekolah. Empat jurusan itu meliputi IPA, Biologi, IPS dan Bahasa

 
Mimpi jadi kenyataan
Setelah SMA Persiapan berdiri, bukan berarti mimpi pejuang-pejuang pendidikan Kota Slawi berhenti. Dengan status SMA yang masih menginduk SMA Negeri Tegal, mereka belum puas. Upaya untuk mengentaskan SMA Persiapan ke SMA yang ‘diakui’ terus dilanjutkan.
Pada suatu ketika, ada kabar Inspektur P dan K dari Jakarta yang meresmikan sekolah di Brebes, akan mampir ke Slawi untuk melihat SMA Persiapan ini. Nah, kesempatan inilah yang bakal dimanfaatkan guna menggolkan mimpi tersebut.
”Hari ini saya terima telpon, besok inspektur mau ke SMA. Karena mendadak, saya sempat bingung soalnya harus mempersiapkan administrasi dan kebersihan. Terus sapa sing ngeludi kelas ben bersih ? Kira-kira si Sirya bisa ora ya ngurusi yang berat-berat?” ujar Samsuri. Di tengah mepetnya waktu, saya juga mengerahkan anggota-anggota Pemuda Demokrat (karena waktu itu Samsuri juga menjabat sebagai Ketua Pemuda Demokrat) akhirnya secara bergotong-royong dengan lampu patromaks, semua kelas dibersihkan demi menyambut tamu agung tersebut, dan keesokan harinya mengundang guru-guru dari SMA N Tegal diantar jemput langsung oleh Wakil Bupati.

Pertemuan dengan inspektur itu memang penting. Dari sanalah gagasan untuk mengubah SMA Persiapan menjadi SMA Negeri Slawi dimulai. Ketika itu beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya kepala sekolah adalah berstatus pegawai negeri dan sekolah sanggup menyediakan rumah untuk kepala sekolah.
Atas jasa Marnadi, Samsuri berhasil memenuhi persyaratan itu, salah satunya dengan menyediakan rumah dinas untuk kepala sekolah di Dukuh Salam, bekas tempat tinggal orang tua Samsuri . Namun, ketika sekolah itu mau diresmikan sebagai sekolah negeri, Samsuri memilih menjadi guru saja di SMP 1 Slawi. Kepala sekolah definitif SMA Negeri Slawi yang melanjutkan tongkat estafet Samsuri, adalah Rahardjo.
Saat matahari berada di titik kulminasi, pada tanggal 23 September 1963, sebuah momen penting telah terjadi. Rahardjo menerima SK pengangkatan sebagai kepala sekolah definitif untuk kali pertama. (wisnu, indani, syakur)