
KULIHAT PELANGI DI MATA NINA
‘’Yang kutahu, Nina itu punya jiwa kepemimpinan. Masuk pramuka, berarti dia punya energi positif yang oke. Ikut saka dirgantara, berarti doski punya visi teknologi yang bagus….’’
Eko Bs, kelas IIIA13 (Bekerja di Jakarta)
‘’Kalem dan cerdas. Dia tak neka-neka, misalnya bikin geng sekolah….’’
MA Firdaus, kelas IIIA12 (Bekerja di Riau)
‘’Manja, ceria, centil, pinter. Semua cowok suka padanya, bohong kalau nggak…’’
Henky Irawan, IIIA12 (Bekerja di Wonosobo)
‘’Siapa sih yang tak kenal Nina? Dia tipe pelajar yang nggak meng-eksklusifkan diri. Dia berteman kepada siapa saja tanpa pandang bulu…’’
Edy Sucipto, kelas IIIA21 (Bekerja di Slawi)
‘’Periang tapi manja. Saat di kelas II, dia pernah nangis sesenggukan tuh di kelas. Sampe sekarang, saya belum tahu penyebabnya, kenapa dia nangis…’’
Abdul Khafid, kelas IIIA13 (Bekerja di Jakarta)
‘’Bahasa Inggrisnya cukup fasih. Mungkin sejak kecil ya Nina udah terbiasa berkomunikasi pake Inggris….’’
Aning Lapdiati, kelas IIIA12 (Bekerja di Karawang)
‘’Nina suka masak cery nanas ala Malaysia. Dia bisa serius, tapi suatu ketika tertawa lepas…’’
Herni Sri Surjanti, kelas IIIA13 (Bekerja di Tegal)
………………………………………………………………………………………………
PAGI yang bening. Slawi pada suatu masa di tahun 1988-1991. Gerombolan anak-anak sekolah yang dimuntahkan dari berbagai penjuru, bergegas menyerbu gerbang SMA 1 di Wahid Hasyim. Di kepala mereka, mengendap beragam pikiran. Soal uang saku cupet, PR yang belum kelar, guru killer, sarapan, ketemu sang pujaan, sampai ngedumel soal hari Sabtu yang begitu lama…
Di ujung ruang kelas, sayup-sayup terdengar percakapan,’’Hari ini ada PR matematika nggak ya Nin?,’’
Gadis berkulit putih, mata coklat dengan rambut dikucir dua, bersepatu kets abu-abu, yang jadi sasaran pertanyaan, tersenyum ramah sambil menggeleng. Si periang itu bernama AFIA ROSDIANA.
Ya, bagi alumnus SMA 1 angkatan ’91 nama Afia Rosdiana yang akrab dipanggil Nina cukup populer. Memang, Nina mungkin nggak pernah merasa jadi idola di sekolah. Tapi harus diakui, pesona Nina lumayan menawan untuk diperbincangkan dan dikagumi. Bukan cuma soal akademik, kepribadian Nina yang oke, membuat pelajar dari belahan Kampung Arab, Slawi Kulon itu bisa diterima di kalangan kawan (seangkatan dan kakak kelas) termasuk guru-guru dan karyawan TU.
Nina pernah jadi idola di angkatan kita. Enerjik, pinter dan baik hati. Kenangan soal Nina, tentu pada kesukaannya bersepatu kets (katanya sering kena razia tuuh). Parasnya begitu bersih dengan sapuan bedak tipis.
Nina yang cas-cis-cus bahasa Inggris, mulai nunjukkin ‘bobotnya’ saat masuk ’10 besar’ Penataran P4. Waktu di kelas IF, doi masuk dalam jajaran murid pinter, selain Wage Rinanto, Dessy Arifianto, Deny Riyanti dan Karti Tri Astuti.
Sohibnya, Deny Riyanti, bercerita Nina cukup fleksibel di lingkungan sekolah. Kepalanya nggak cuma berisi teori-teori ilmu pasti, tapi juga gaul dan mudah adaptasi dalam tren masa itu.
‘’Aduh, Nina punya andil lo waktu kita ikutan lomba tari kreasi baru di class meeting. Kalo gak salah, tarian bikinan Nina judule Tanda-tandanya, itu lagunya Mus Mujiono, ’’ ucap Deny berapi-api.
Ngga cuma Deny deh, hampir komunitas IF punya kenangan bersama Nina. Doi pernah jadi sutradara Ande-Ande Lumut saat ada Kemah Gabungan PMR, Pramuka dan PKS di Desa Lengkong, Tuwel Kidul.’’Kreatif. Waktu itu kelas kami nampilin drama musikal. Lagu-lagunya yang nyariin dia bareng Deny dan Kartika. Waktu itu, kelas kami menang,’’ kenang Wisnu Setiadji, yang ikut main dalam drama itu.
Bagi Edy Sucipto, Nina mau berteman dengan siapa saja. Alumnus yang kini bekerja di Dinkes Slawi itu, mengenang, bagaimana dulu sepatunya sering diinjak-injak Nina. Menurut Edy, itulah gaya Nina kalau ketemu kawan.’’Pernah kita-kita kumpul di rumahnya Nina, lalu ramai-ramai bersepeda ke Cacaban. Pokoke asyik,’’ kenangnya.
BENING
Sebagai remaja yang tengah mekar-mekarnya, toh Nina juga tak lepas dari dunia kisah-kasih di sekolah. Gita cinta dari SMA sempat mengiringi hari-hari gadis yang sempat tumbuh di Negeri Jiran, Malaysia itu.
Di sekolah, Nina sempat yang-yangan dengan Kukuh Heru (seangkatan). Tapi usia pacaran mereka cuma tiga bulanan. Selain Kukuh, cowok-cowok berwajah polos, sempat mendamba cinta Nina. Para pangeran yang dilanda pubertas dan ingin mengisi masa akil baliknya dengan indah itu, diantaranya Atet, Eko Budi Susianto , Abdul Khafid dan Syam Pamungkas alias Papang.
Nina suka runtang-runtung (sepur ‘kali) karo Eko Susianto tapi punya geng sekolah, yaitu Ayip (Arif Hartoto), Nunung (Nurlalila Hikmawati) dan Atet. Nah, rekan segeng yang laen, yaitu Papang, diam-diam menaruh hati sama Nina. Cuma si Papang ini keliatane jaga imej, supaya nggak konangan rekan segeng-e, jadine dipendem di hati (kasian banget ya) . Khusus untuk Nina, Papang punya panggilan khusus yaitu ‘uiua’ (nama Nina yang diwalik). Wah, di geng-e aja ada dua nih yang naksir…
Oya, Nina pernah kepincut dengan Mas Gandi, kakak kelasnya yang ganteng itu. Boleh jadi itu cinlok (kan sama-sama pramuka dirgantara). Soal perasaan Nina ke Mas Gandi, cuma kanca-kanca sing kentel bae, sing ngarti.
Eko Susianto, yang kini pegawai Telkom dan tinggal di Cempaka Putih Jakarta akhirnya membuat pengakuan nih.
‘’Aku cuma naksir Nina dari jauh kok. Waktu itu, aku lagi pacaran dengan cewek temen SMP di Brebes. Dessy lanang banyak tahu tuh. Saya kira nggak cuma aku yang naksir Nina kok, banyak. Soalnya dia kan bening,’’ kata Eko. Maksude bening apa ya?
Soal Nina, Eko tak menampik doski familiar. Kenangan paling indah, menurut Eko, yaitu suatu ketika berlima (Aning, Dessy lanang, Nina dan almarhum Rahadian) naik omprengan ke Guci. Ngapain aja sih mereka di Guci?
Nina, sekali lagi, bagai pelangi yang memberi warna bagi sepenggal masa di sekolah kita. Wanita kelahiran Slawi, 31 Mei 1972 itu, kini bekerja sebagai Kepala TU di sebuah SMP Negeri di Yogyakarta. Sarjana S2 (Pendidikan Luar Sekolah) dan S1 (Sastra Inggris) ini pun telah menjadi ibu yang hangat bagi dua putranya.
NINA ANWAS SAYS: Waktu SMA, Na’ belum tahu mau jadi apa. Kayaknya pas umur segitu, Na’ belum punya cita-cita yang pasti. Di sekolah, ikut saka dirgantara, ya karena Na suka aja. Aduh, ngomongin tari kreasi baru yang Na ciptain di sekolah, lupa, soale karangan Na kan banyak.
Soal pacaran, iya sih Na sempat jalan sama Kukuh, tapi putus. Waktu itu, keliatannya, pacarane Na gampang putus. Kalau yang naksir..banyak, yang Na tolak, banyak juga (ingat iklan obat nyamuk, yang mahal banyak..). Waktu Na nangis di kelas aduh lupa. Tapi yang Na ingat, Khafid tuh terang-terangan ngomong seneng ke Na, tapi tak tolak ha ha ha. Soal Eko, iya sih Na sempat ‘ngerasa’. Keliatannya dia nggak ngomong tuh…Kami sempat ke Guci. Waktu itu, Na inget pake baju oranye. Soal Mas Gandi, idih malu-maluin ah, nggak usah diekspos.