SMA 1 SLAWI ALUMNI WEBLOG

NEVER ENDING FRIENDSHIP

Browsing Posts published in December, 2009

Pada tahun 1960, sejumlah tokoh pendidikan di Kota Slawi, Kabupaten Tegal, dirundung kegelisahan. Maklum, sejak SMP 1 Slawi berdiri tahun 1957, kota ini belum memiliki sekolah lanjutan atas seperti SMA atau SMEA. Tak hanya para tokoh, masyarakat Slawi secara umum pun sangat merindukan hadirnya SMA yang mampu menciptakan kesinambungan pendidikan dari jenjang SMP ke SMA.
Ada salah satu tokoh Slawi yang menaruh perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Dialah Marnadi (almarhum) yang kala itu memimpin partai PNI dan figurnya sangat berpengaruh di Pemerintah kota Slawi. Marnadi bersama sejumlah tokoh pendidikan, mengusulkan kepada Bupati Tegal Soetoro, agar didirikan sekolah lanjutan atas sesuai aspirasi masyarakat Slawi.
Gayung pun bersambut. Tak menunggu waktu lama, bupati pun membentuk Panitia Pendiri Sekolah-sekolah Lanjutan Atas yang diketuai oleh Umar Kasan, seorang wedana yang diangkat menjadi patih (setingkat wakil bupati). Sekretaris panitia dipegang Soetarjo,yang menjabat sebagai wedana slawi sedangkan Marnadi ditugasi menjadi bendahara,seksi pembangunan. Kepanitiaan juga dilengkapi dengan seksi pendidikan yang dipercayakan kepada Imam Sudjaki (kepala SMP 1 Slawi) bersama Samsuri Gandakusuma (guru di SMP 1 Slawi).

Cita-cita para tokoh Kota Slawi, baru menampakkan hasilnya pada tahun 1962. Setelah melalui diskusi panjang dan melelahkan bersama guru di SMA Negeri Tegal, dibentuklah SMA Negeri Slawi filial SMA Negeri Tegal dengan nama SMA Persiapan Negeri Slawi.
Sesuai skenario, Imam Sudjaki yang saat itu memimpin SMP 1 Slawi akan diplot menjadi kepala SMA Persiapan Slawi. Namun lantaran saat penerimaan murid baru, yang bersangkutan diangkat menjadi kepala SMP Klampok, Banjarnegara, maka kendali SMA Persiapan itu dipercayakan kepada Samsuri Gandakusuma. Samsuri pun ditugasi menjadi kepala sekolah.
”Saya masih ingat waktu bulan puasa dan tahun ajaran baru tahun 1962. Usia saya masih 30 tahun saat ditugasi menjadi kepala SMA Persiapan Negeri Slawi,” kenang Samsuri, salah saksi sejarah berdirinya SMA Negeri 1 Slawi, sekolah yang kini bersatus Rintisan Sekolah Berstandar Internasional.

Di bawah pimpinan Samsuri, SMA Persiapan yang menempati tanah milik Brigif IV itu, mulai melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Pertama kali SMA ini ‘beroperasi’, hanya terdiri atas empat kelas, dengan 40 siswa perkelasnya. Para guru pun kebanyakan ‘pocokan’ seperti Sikoen Emidjojo, Ramdan, Khadimin, Arzani, Mukijo dan lain-lain. Tenaga TU pun hanya satu yaitu Fatimah dibantu oleh satu pesuruh yaitu Sirya, orang Dukuh Salam.
Ketika SMA Persiapan berdiri, saat itu tengah terjadi perubahan sistem pendidikan di SMA, dari SMA yang berstatus SMA A, B, C, D diubah menjadi SMA gaya baru dengan SMA dengan 4 Jurusan tapi satu sekolah. Empat jurusan itu meliputi IPA, Biologi, IPS dan Bahasa

 
Mimpi jadi kenyataan
Setelah SMA Persiapan berdiri, bukan berarti mimpi pejuang-pejuang pendidikan Kota Slawi berhenti. Dengan status SMA yang masih menginduk SMA Negeri Tegal, mereka belum puas. Upaya untuk mengentaskan SMA Persiapan ke SMA yang ‘diakui’ terus dilanjutkan.
Pada suatu ketika, ada kabar Inspektur P dan K dari Jakarta yang meresmikan sekolah di Brebes, akan mampir ke Slawi untuk melihat SMA Persiapan ini. Nah, kesempatan inilah yang bakal dimanfaatkan guna menggolkan mimpi tersebut.
”Hari ini saya terima telpon, besok inspektur mau ke SMA. Karena mendadak, saya sempat bingung soalnya harus mempersiapkan administrasi dan kebersihan. Terus sapa sing ngeludi kelas ben bersih ? Kira-kira si Sirya bisa ora ya ngurusi yang berat-berat?” ujar Samsuri. Di tengah mepetnya waktu, saya juga mengerahkan anggota-anggota Pemuda Demokrat (karena waktu itu Samsuri juga menjabat sebagai Ketua Pemuda Demokrat) akhirnya secara bergotong-royong dengan lampu patromaks, semua kelas dibersihkan demi menyambut tamu agung tersebut, dan keesokan harinya mengundang guru-guru dari SMA N Tegal diantar jemput langsung oleh Wakil Bupati.

Pertemuan dengan inspektur itu memang penting. Dari sanalah gagasan untuk mengubah SMA Persiapan menjadi SMA Negeri Slawi dimulai. Ketika itu beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya kepala sekolah adalah berstatus pegawai negeri dan sekolah sanggup menyediakan rumah untuk kepala sekolah.
Atas jasa Marnadi, Samsuri berhasil memenuhi persyaratan itu, salah satunya dengan menyediakan rumah dinas untuk kepala sekolah di Dukuh Salam, bekas tempat tinggal orang tua Samsuri . Namun, ketika sekolah itu mau diresmikan sebagai sekolah negeri, Samsuri memilih menjadi guru saja di SMP 1 Slawi. Kepala sekolah definitif SMA Negeri Slawi yang melanjutkan tongkat estafet Samsuri, adalah Rahardjo.
Saat matahari berada di titik kulminasi, pada tanggal 23 September 1963, sebuah momen penting telah terjadi. Rahardjo menerima SK pengangkatan sebagai kepala sekolah definitif untuk kali pertama. (wisnu, indani, syakur)

SARASEHAN ALUMNI SMA 1 SLAWI

3 comments

Sabtu, 28 November 2009 lalu di pemancingan Lebaksiu diadakan Sarasehan Alumni SMA 1 Slawi yang dihadiri kurang lebih 40-an alumni dari lintas angkatan. Yang hadir diantaranya Bp. Abdul Wahid, Bp. Yoseph Iswinarno dari Katul, Komunitas Tujuh Lima. 76 diwakili Bp. Machrup Elrick. HADI, Himpunan Delapan Puluh datang berombongan Ibu Emy, Bp. Susilo, Bp. F. Mujianto dkk. 81 hadir dari Kedungwuni, Ibu Sri Rejeki lalu bendahara 81, Bu Susmiati hadir diiringi Bpk. Haryoto. Alumni 82 dihadiri ketuanya, Bp. Handoko & Bp. Sobri. 83 diwakili mas Kristanto Budi U. Alumni 86 dipimpin mz. Soni Nusa hadir bersama mas Yudo & Bu Endang.

 

Interstate 89 direncanakan akan diwakili mas Akhmad Rizal, terpaksa batal hadir karena sakit (yg jelas bukan keracunan Kempong, y, mz…). Dan I-89 lainnya, mas Teguh Puji Harsono, terpaksa “kabur” karena tidak mau dianggap dihukum. Maklum beliau lebih suka duduk “mojok”. Matur nuwun mas Very Yulianto yang mengikuti acara sampai selesai. Aneh bin ajiiibbb… angger wong Lebaksiu ora teka, y, mas….

 

92 biasa laah yaawww…diwakili profesor kita, mas Abdul Syakur & mbak Sri Haryati. Seksi sibuk, karena jadi panitia dadakan (maklum tukang woro-woro & Pendiri Grup FB Alumni global, ketinggalan bis & terdampar di tengah hutan Sumsel) sehingga mas Herry Prasetyo 94 & mbak Indani 96 mudah-mudahan ora kapok, mengurusi tetek bengek Sarasehan.

 

98 diwakili mas Tryas Wahyudianto, 99 ada mas Daniel, 2001 mbak Laela Nurcahyati, 2005 dipimpin mantan ketosnya, mas Dwi Kartiko datang bareng mas Aroem Rogo & mas Akhmad Budi. 2006 ada pak polisi kita, mas Syarif Muji dan teman-teman dari 2007 sekaligus ketua Formassi, mas Tazul Arifin & mas Khakul Yaqin.

 

Sarasehan Alumni SMA 1 Slawi ini selain bersilaturahim dengan ketua IKASMANSAWI, dr. M. Abdul Djalil, Mkes., juga menunjuk Bp. Machrup Elrick 76 sebagai Ketua Umum IKASMANSAWI periode 2009-2014. Mengingat IKASMANSAWI yang dibentuk kurang lebih tahun 2000 an, vakum kegiatan & pengurusnya.

Ditunjuk pula Ketua Harian IKASMANSAWI, Bp. Dwi Handoko yang merupakan alumni 82. Dengan pertimbangan domisili beliau di seputaran Slawi dus keaktifan beliau dalam berbagai kegiatan alumni, terutama alumni 82.

 

Sementara ini belum dapat dirilis secara terbuka susunan pengurus IKASMANSAWI periode 2009-2014 karena belum lengkap, mengingat masih dalam penggodokan oleh Ketua Umum & Ketua Harian.

 

Harapan seluruh alumnisma1slawi, IKASMANSAWI lebih “Hidup”. Mengingat hampir semua bidang terdapat alumnisma1slawi. Team work adalah suatu upaya pencapaian yang jauh lebih efektif dan lebih efisien, dibandingkan dengan bekerja secara perorangan.

Hampir semua orang menyadari akan arti pentingnya “team work”. Secara umum suksesnya sebuah usaha sangat bergantung pada tiga faktor, yaitu: AKSES, MODAL dan SKILL. Jarang yang memiliki ketiga hal tersebut.

 

Permasalahannya, orang-orang yang memiliki “kelebihan” di atas tidak saling mengenal dan tidak saling mengetahui. Yang memiliki modal tidak mengetahui bagaimana cara terbaik untuk mengelola uang agar bisa menjadi usaha. Yang memiliki skill tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, dan yang memiliki network tidak tahu apa manfaat dari jaringan luas yang dimilikinya.

 

Tiga faktor yang dimiliki alumnisma1slawi ini tak akan berhasil jika alumnisma1slawi yang memiliki modal tak “menzakatkan” modalnya kepada orang yang memiliki skill & network, dan sebaliknya orang yang memiliki skill menzakatkan skill-nya kepada yang memiliki modal atau network. Begitu juga orang yang memiliki network menzakatkan networknya kepada mereka yang memiliki skill atau bahkan pemilik modal, sehingga tercipta suatu sinergi untuk mencapai suatu tujuan secara bersama-sama.

 

Zakat di sini adalah memberikan salah satu hal yang alumnisma1slawi miliki kepada orang lain, artinya membantu orang lain sekaligus membantu diri sendiri. Kunci sinergi di sini adalah sebuah “kepercayaan”. Diperlukan kejelian melihat kemampuan orang-orang yang akan alumnisma1slawi “zakatkan”, yaitu kemampuan mengenal “kemampuan”, sehingga alumnisma1slawi tidak salah dalam melihat dan mengenal orang lain. “Mata hati” alumnisma1slawi yang tajam akan mampu melihat siapa orang yang berada di hadapan kita. Dan tentu saja dengan prinsip “husnu-dzan” yang bersih dan bebas dari belenggu “su’udz-dzan (prasangka buruk) kepada orang lain.

 

Semoga IKASMANSAWI dapat menjadi wadah yang dapat menyatukan 3 faktor (Akses, Modal & Skill) alumninya untuk lebih bermanfaat bagi alumni, almamater & masyarakat Kabupaten Tegal pada umumnya. Karena zakat di sini adalah suatu upaya untuk memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan suatu kolaborasi dengan kita. ZAKAT KOLABORASI.

Powered by WordPress Web Design by SRS Solutions © 2010 SMA 1 SLAWI ALUMNI WEBLOG Design by SRS Solutions