” Hai, Mama Ardi. Darimana ???? muka ditekuk begitu, kenapa ????” sapa ku pada seorang tetangga satu gang.![]()

” Semua mahal. Ayam mahal, daging apalagi, telur ??? ” Rentetan keluh kesah menjawab sapaanku.
Aku tersenyum, ” Y, udah, sabar…”
” Gimana mau sabar Ma Nca, kan kita mau puasa ? ” gerutu Mama Ardi
” Loh, emang kalo mo puasa, kenapa ? sahur ya, biasa, trus niat dan puasa, deh ” kataku bingung.
” Laahhhh…Mama Nca ini, buat sahur dan buka puasa kan kudu makan yang enak sebagai ganti udah puasa seharian.”
” Oh, maksud e Mama Ardi begitu, ealahhh….emang mo puasa ato’ makan enak, nih ? ” tanyaku menggoda.
” ya…..kalo bisa puasa juga makan enak ” aku tertawa mendengar jawaban Mama Ardi.
Selama ini, begitu banyak orang yang menganggap bahwa puasa adalah “menihilkan” dunia nyata, yang akhirnya menghasilkan orang-orang yang mengabaikan realitas kehidupan atau lari dari tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosialnya, tanpa melakukan suatu perjuangan sebagai rahmatan lil alamin, yaitu suatu tugas yang telah diberikan oleh Tuhan kepada manusia sehingga ia dijuluki sebagai khalifah oleh Tuhan.
Tujuan puasa yang sebenarnya dalah “menahan diri”, dalam arti yang sangat luas. Menahan diri dari belenggu nafsu duniawi yang berlebihan dan tidak terkendali, atau nafsu batiniah yang tidak seimbang. Di mana kesemuanya itu, apabila tidak diletakkan pada porsi yang benar akan mengakibatkan suatu ketidakseimbangan hidup yang akan berakhir pada kegagalan.
Dorongan (keinginan/nafsu) fisik atau batin secara berlebihan akan menghasilkan sebuah rantai belenggu yang akan menutup asset yang paling berharga dari seorang manusia, yaitu ” God Spot “. God Spot adalah kejernihan hati dan pikiran manusia yang merupakan sumber-sumber suara hati yang selalu memberikan bimbingan dan informasi-informasi maha penting untuk keberhasilan dan kemajuan seseorang. God Spot yang tertutup oleh nafsu fisik dan batin yang tidak seimbang akan mengakibatkan seseorang menjadi “buta emosi”. Ia menjadi seseorang yang tidak peka dan tidak mampu lagi membaca kondisi batiniah dirinya dan juga lingkungannya secara obyektif. Ia menjadi bodoh, ia tidak mampu lagi mendeteksi bahaya-bahaya yang ada di hadapannya, tidak bisa mengetahui lagi di mana ia berdiri, tidak mengerti siapa dirinya. Sederhananya, ia menjadi seorang makhluk asing di dalam dirinya sendiri dan di dalam lingkungannya sendiri. Hal ini terjadi karena radar hati yang telah tertutup nafsu. Ia menjadi tuli dan buta, sehingga tidak lagi mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, karena baginya kebenaran adalah apabila ia mengikuti “nafsu” pribadi. Namun apabila ia telah terbebas dari nafsu itu, maka hatinya kembali menjadi “terang”, suara hati kembali bekerja untuk memberikan informasi dan bimbingan ‘maha’ penting untuk meraih keberhasilan dengan cara yang sesuai dengan hati nurani manusia.
Nafsu akan cenderung mengambil jalan pintas untuk mencapai suatu keberhasilan, dan akan menciptakan suatu landasan yang rapuh dan berbahaya yang justru akan menghantam balik dirinya sendiri. Karena keberhasilan yang diraih mengganggu keseimbangan tatanan alam dan tatanan sosial yang cenderung mengarah pada kerusakan dan kehancuran. Di satu sisi, ia merasa benar, tetapi di sisi lain orang lain akan merasa terganggu dengan sepak terjangnya. Ia mungkin tahu, bahwa ia telah membuat suatu kesalahan yang akan merugikan orang lain, tetapi belenggu nafsu telah menutup mata dan telinga, sehingga tidak lagi mampu menyadari bahwa dirinya sedang menuju jurang kehancuran, tinggal waktu saja yang akan membuktikannya, karena alam akan kembali pada “keseimbangan NYA”.
Secara umum, tujuan untuk berpuasa adalah mencapai suatu kemerdekaan sejati. Merdeka dan bebas dari berbagai belenggu yang mengkungkung God Spot atau kecerdasan emosi seseorang. Puasa adalah suatu metode pelatihan rutin dan sistematis untuk menjaga fitrah manusia sehingga ia tetap memiliki sebuah kesadaran diri yang fitrah (God Spot) dan akan menghasilkan sebuah “Akhlakul Karimah”.
Sungguh, sejahat-jahat makhluk menurut Allah, ialah orang yang tuli dan bisu, orang yang tiada menggunakan akal….Q.S. 8 Surat Al Anfaal ayat 22.
www.alumnisma1slawi.com mengucapkan SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI SELURUH ALUMNI SMA 1 SLAWI DIMANAPUN BERADA. SEMOGA ALLAH SWT MERIDHOI SEMUA AMAL & IBADAH KITA. Amien….


