Hai, teman alumni SMA I Slawi.

krisis
Apa kabar ???? semoga Allah Swt, senantiasa melindungi kita semua, amin. Seperti yang kita ketahui sekarang sedang heboh “krisis moneter global”. Banyak negara yang kena imbasnya, jangan tanya ke Amerika. Negara kita, Indonesia tercinta yang kata pemerintah gak kena, nyatanya kena tuh ???? Gak usah jauh jauh, perusahaan tempat suami tercinta pun terkena imbasnya. Eeee, iya, belon cerita nih. My hushband kerja di perusahaan kertas nasional. Masuk grup nya Sinar Mas. Pabriknya yang di Karawang, memproduksi berbagai macam kertas. Dari kertas untuk buku tulis, label buat syrup dan tissue.
Nah, teman Alumni SMA I Slawi,
Hampir 1,5 bulan ini mesin tempat suamiku kerja stop, gak jalan n asli mandeg deg. Dan kaitannya dengan krisis moneter global adalah produksi kertas yang biasanya diekspor, terpaksa distop untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Karena permintaan turun drastis, harga bahan baku (pulp/bubur kertas) yang terjun bebas (ini produk sampingan), dan kekhawatiran produsen terhadap kemampuan bayar klien/nasabahnya. Daripada ngejual bayarnya g tau kapan, mending g jual. Gitu deh, kasarnya.
Akibatnya teman Alumni SMA 1 Slawi, sebagian karyawan borongan sudah dirumahkan. Alhamdulillah, status suami yang karyawan g terusik dengan masalah ini. Tetapi HRD nya gampang banget ya, ngeluarin peluru berupa SP3 atas kesalahan2 yang g begitu fatal sih, tapi ya, wong namanya lagi cari2 sasaran empuk buat di PHK y, apa aja bisa buat alasan toh ????
Masih bersyukur pula, karyawan tetap digaji seperti biasanya. G telat, emang. Tapi uang lembur nol, premi produksi nihil. Padahal kami hidup dari uang lembur…..yang besarnya bisa 2 kali lipat gaji pokok, he…he…Sekali lagi memang jamannya udah susah, mau diapain lagi. Merdeka !!!! buat para teman alumni SMA 1 Slawi yang berkarya menjadi Pegawai Negeri Sipil, Guru Negeri dan lain2. Aman…
Aih, curhat jadinya ya….akibat krisis moneter global (kuambil ini dari ibu2 se gang, maksud e sing bojone se pabrik), tetangga depan, suaminya ada yang gantung diri (Audzubillah bin Dzalik). Trus kemarin di Waserda Koperasi Pabrik ada yang stressssssss. Istrinya teriak2 kesetanan karena g bisa “ngutang” di waserda, mengingat plafond pinjaman suaminya telah habis. Padahal si suami hanya bisa membawa sisa gajinya enam puluh ribu rupiah saja !!!!!!! Astaghfirullah…
Karena ibu2 di arisan RT ku menyalahkan krisis moneter global, sempat kutanyakan pada mereka, apa yang mereka maksud dengan krisis moneter itu ???? Mengapa mereka marah pada krisis moneter ???? Stupid, ya, pertanyaannya..ya, iyalah mereka marah, mereka menyalahkan krisis moneter. Karena krisis moneter, para suami mereka (termasuk suamiku) hanya bisa membawa pulang gaji pokok (tapi halal). Uang lembur yang biasanya bisa untuk bayar les ini itu anak2, berpiknik dalam kota (maksud e jalan2 ke mal), beli ini itu dll. Sekarang tak bisa lagi mereka lakukan. Pahit hit.
Dan teman alumni SMA 1 Slawi yang tercinta, mereka balik bertanya kepadaku, “Emangnya Bu Aning g marah ke krisis moneter ??? G kecewa suami pulang hanya membawa gaji pokok tok ???? G sebel kita, ibu2nya kudu mikir kumaha nambal kekurangan ????”. Ku jawab, “Ngapain marah ke krisis moneter. Buang2 energi. Kecewa ke suami, aduuhhhhh, ibu2, jangan deh…..kasihan suami2 kita. Yah, emang rezeki kita saat ini hanya segini mau diapain lagi. N buat nambal kekurangan ya, kita kerja dong.”
“Emang e kita masih diterima kerja dimana ????” Tanya mereka kompak.
“Emang kerja kudu di kantor ? di pabrik ? ” balik saya bertanya.
“Iya, ngomong doang emang enak.” Kata seorang ibu ketus.
“Ya, iyalah bisa ngomong gitu, wong dah, punya sampingan jualan kue. Trus bapak e anak2 nukang.” Kata yang lain.
Aku cuma nyengir. “Kan saya pernah ngebahas soal Mengantisipasi Resiko waktu arisan RT tahun kemarin. Mpe saya copy in tuh, artikel e. Tuuuuh, kan, boro2 dibaca. Pasti kertasnya dah buat bungkus apaan n dah jadi sampah yang udah hanyut mpe Teluk Jakarta. Pasti !!!!” Kataku kalem.
Diam panjang.
“Kalo begitu, Bu Aning bisa g, ngejelasin apa itu krisis moneter ??” Tanya seorang ibu yang tinggal di ujung gang.
“Kita berandai2 dulu y. Misal e kita n negara g punya duit sama sekali. Duit kertas, duit koin ditarik dari peredaran. Akibatnya apa ????” tanyaku, mereka mengangkat bahu.
“Kita males ngapa2in. Mau kerja ya, males. Percuma berangkat kerja, wong dah tahu g bakalan digaji. Duit darimana ??? Mau buka usaha, males banget. Siapa yang mo beli ??? banyak orang g punya duit…” Terangku.
“Sekarang kita lempar duit, mulai “rame” kan. Dalam artian, yang kerja mulai semangat. Karena tau bakal digaji pake duit. Trus yang mo buka usaha juga niat banget. Banyak orang kerja berarti banyak yang dapat gaji dan mereka punya duit. Pasti mereka mau beli ini itu. Trus ditambah lagi tuh, duit yang dilempar. Makin semangat kan….Sampe2 saking banyaknya yang butuh tenaga kerja, anak2 dibawah umur disuruh kerja. Trus, yang punya usaha pengen buka usaha lagi dan seterusnya. Habis itu, duit e ditarik lagi, tapi pelan2. Semangat tentu akan menurun sampai terulang lagi cerita saya yang diatas. Nah, kalo kita masih ingat pelajaran ekonomi di sekolah dulu. Ada siklus ekonomi yang terjadi di negara mana pun. Terbagi dalam 4 masa, Masa Ekspansi, Masa Puncak, Masa Resesi dan Masa Depresi. Sekarang apa hubungannya dengan pengandai saya di atas. Masa Ekspansi adalah masa dimana negara dan kita waktu itu g punya duit sama sekali trus dilempari duit banyak. Orang mulai bekerja, dunia usaha yang udah ada mulai ekspansi dengan membuka usaha baru, dan dengan sendirinya pengangguran berkurang. Eeeeeh, tapi duit e g dilempar begitu aja, toh ???? ya, lewat Bank Sentral. Yang emang tugasnya mengendalikan likuiditas.”
“Apa itu likuiditas, Bu Aning ?” tanya seorang ibu menyela penjelasanku.
“Likuiditas itu adalah besar kecilnya jumlah peredaran uang.” Jawabku lugas.”Apabila likuiditas besar, biasanya besar pulalah produksi barang dan jasa yang akan dihasilkan. Apabila likuiditas kecil, biasanya kecil pula produksi barang dan jasa yang dihasilkan. Jadi, besar kecilnya produksi barang dan jasa sangat tergantung pada tingkat likuiditas di suatu negara. Oh, ya, barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam jangka waktu tertentu disebut Produk Domestik Bruto, kerennya Gross Domestic Product.”
“Trus habis masa ekspansi apa lagi tadi Bu ????” tanya seorang ibu lainnya mengingatkan pembicaraan yang terpotong tadi.
“Ah, ya, setelah masa ekspansi ada masa puncak. Yang mana pada masa ini uang ada dimana2, orang ogah nyimpen uangnya di bank. Tapi dipake buat buka usaha baru. Trus seperti kesetanan buat beli barang dan jasa yang ada di pasaran. Makanya pada masa ini harga barang dan jasa naiknya gila2an. Pergerakan uang dari satu tangan ke tangan yang cepet. Ibarat mesin, Mesin Ekonomi mulai menjadi sangat “panas”. Dan ibarat Gunung udah di puncak pasti akan menurun lagi, toh ???? Masa puncak memang baik. Tetapi efeknya akan timbul inflasi. Efek sosial dan politiknya bikin takut pemerintah. Secara sosial, masyarakat bisa panik dan ngeborong semua barang di supermarket. Untuk itu, pemerintah lewat Bank Sentralnya mulai mencoba mengurangi laju inflasi dengan memperlambat pompa likuiditas. Sebagian uang ditarik dari peredaran dengan cara menaikkan suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman. Naiknya suku bunga simpanan mendorong orang menyimpan uangnya di bank. Menaikkan suku bunga pinjaman, ya, g akan banyak orang ambil kredit dan buka usaha. Efeknya pengangguran mulai naik kembali. Sedangkan Masa Depresi adalah masa dimana bank sentral kebablasan dan resesi mencapai puncak keparahannya. Suku bunga simpanan dan pinjaman yang naik gila2an. Uang tersedot di perbankan. Usaha banyak yang bangkrut dan gulung tikar. Pengangguran bejibun. Harga barang dan jasa akan mengalami penurunan. Karena kalau tidak, g akan terbeli oleh masyarakat yang lagi g punya duit. Aih, haus juga y, udah ngedongengin ibu2.” kataku memecah kesunyian yang melanda. Ibu2 menghela nafas hampir bersamaan.
“Seru juga, ya” Tukas Ibu Erna.
“Emang film, seru !!!!” Kata Bu Rita
“G ngira segitu gampangnya soal ekonomi y….tau dari mana Bu Aning ???” Tanya Bu Iis.
“Makanya baca dong, baca…..Nih, bukunya” jawabku sambil mengacungkan sebuah buku Seri Perencanaan Keuangan Keluarga karya Safir Senduk. Ibu2 mencibir, “Kirain Bu Aning pinter beneeeeerrrrrrr…..”
“Yah, itulah gunanya doyan baca” Kataku sambil pergi meninggalkan ibu2.
Okay, teman Alumni SMA 1 Slawi yang tersayang, mpe jumpa lagi di tulisan mendatang. Keep your healthy dan Bye.
Komentar Terakhir