Dari Abi Hurairah Ra, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “rugi sekali seorang lelaki yang namaku (Muhammad) disebut disisinya, lalu ia tidak membaca shalawat untukku, dan rugi sekali seorang lelaki yang bertemu Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu dan ia tidak terampuni, dan rugi sekali seorang lelaki yang mendapati kedua orangtuanya dalam keadaan tua, atau salah satu dari keduanya, lalu ia tidak masuk surga.”
Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan At Tirmidzi.
Bulan Ramadhan adalah bulan agung (syahrun ‘azhim), bulan yang memberi kesempatan untuk mendapatkan ampunan Allah SWT, kesempatan untuk terbebas dari api neraka. Ini juga bulan yang penghujungnya menjadi ekspresi kegembiraan kaum muslimin, sebab ia telah berhasil bertemu bulan Ramadhan yang mulia dan memberi harapan besar kepada siapa saja yang mengoptimalkan untuk memasuki surga, melalu pintu al-rayyan dan untuk bertemu Allah.
Wajarlah jika seorang muslim melakukan introspeksi (muhasabah) dan evaluasi (taqwim) adalah bulan Ramadhan yang telah berlalu mengantarkannya untuk mendapatkan semua hal di atas.
Hadits di atas mengingatkan adanya hal-hal “sederhana” dan “ringan” yang apabila seseorang melakukannya, niscaya ia menjadi orang yang beruntung, namun, jika ia mengabaikannya, maka ia menjadi orang yang merugi dan hina.
Ada tiga hal “sederhana” dan “ringan” yang disebutkan oleh hadits nabi diatas, yaitu:
1. Membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW.
2. Optimalisasi Ramadhan untuk mendapatkan pengampunan Allah SWT.
3. Mendayagunakan kesempatan bertemu kedua orangtua untuk masuk surga.
Membaca Shalawat untuk Nabi Muhammad
Hadits diatas mengajarkan bahwa jika nama nabi Muhammad SAW disebut dan kita mendengarnya, hendaklah kita membacakan shalawat dan salam untuk beliau dengan mengucapkan: Allahumma shalli wa sallim ‘alaihi (Ya, Allah, sampaikan shalawat dan salam untuk beliau).
Ucapan seperti ini bukan sesuatu yang berat dan sulit. Jika kita mengucapkannya, kita menjadi orang yang beruntung dan berbahagia, sebab, pada hadits lain Rasulullah bersabda yang artinya: “Siapa yang membaca satu shalawat untukku, maka Allah akan bacakan shalawat untuknya 10 kali.” HR. Muslim.
Namun, jika mengabaikan hal yang “sederhana” dan “ringan” ini, maka kita akan dijauhkan dari rahmat Allah, kita menjadi manusia yang merugi. Jauhnya dan meruginya kita dari rahmat Allah telah di-amin-I oleh nabi.
Optimalisasi Ramadhan
Hadits diatas menjelaskan bahwa kesempatan bertemu Ramadhan adalah kesempatan untuk meraih dan mendapatkan pengampunan Allah. Karenanya, siapa saja yang bertemu Ramadhan, dan Ramadhan berlalu, sedang ia tidak mendapatkan pengampunan Allah berarti ia adalah orang yang merugi dan dijauhkan dari rahmat Allah. Kerugian dan jauhnya ia dari rahmat Allah telah di-amini-I oleh Rasulullah.
Oleh karena itu, setelah bulan Ramadhan yang mulia ini berlalu, hendaklah kita melakukan introspeksi dan evaluasi, adakah kita termasuk orang-orang yang berhasil meraih dan mendapatkan pengampunan Allah ?
Paling tidak, ada 3 hal yang perlu kita evaluasi, yaitu:
a. Adakah pada bulan Ramadhan yang lalu kita telah melakukan ibadah puasa, dengan dasar keimanan, dan dengan target mencari ridha Allah ? Hal ini bertolak dari hadits Nabi yang menjelaskan bahwa: “Siapa saja yang berpuasa karena iman dan dalam rangka meraih ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu terampuni.” Muttafaqun ‘alaihi.
b. Adakah pada bulan Ramadhan yang lalu kita telah melakukan qiyam Ramadhan (menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan ibadah), dengan dasar keimanan dan dengan target meraih ridha Allah ? hal ini bertolak dari hadits Nabi yang menjelaskan bahwa: “siapa saja yang melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan dalam rangka meraih ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu terampuni.” Muttafaqun ‘alaih.
c. Adakah pada bulan Ramadhan yang lalu kita melakukan qiyam Lailat Al-Qadar (menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat dan ibadah), dengan dasar keimanan dan dengan target meraih ridha ? hal ini bertolak dari hadits Nabi yang menjelaskan bahwa: “Siapa saja yang melakukan qiyam lailatul qadar karena iman dan dalam rangka meraih ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu terampuni.” Muttafaqun ‘alaih.
Perlu ditegaskan bahwa sabda nabi yang menyatakan Ramadhan menunjukkan bahwa puasa dan qiyam yang dimaksud adalah satu bulan penuh. Ini berarti bahwa yang perlu kita evaluasi terkait dengan shiyam dan qiyam Ramadhan adalah 3 hal, yaitu:
a. Pelaksanaannya yang satu bulan penuh, tanpa ada yang bolong, kecuali jika ada uzur sya’i.
b. Asas pelaksanaannya yang berdasar pada keimanan.
c. Target pelaksanaannya yang mencari ridha Allah.
Untuk qiyam lalt al-qadar evaluasinya juga tiga hal, yakni:
a. Adakah pada malam itu kita melakukan qiyam ?
b. Adakah qiyam yang kita lakukan berdasar pada keimanan ?
c. Adakah target pelaksanaan qiyam lailat al-qadar adalah mencari ridha
Allah ?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah “ya”, maka hendaklah kita mengucapkan Alhamdulillah wasy-syukru lillah. JIka jawabannya “tidak” hendaklah segera kita bertaubat dan bertekda dengan sebenarnya bahwa kalau Allah memberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan lagi di waktu mendatang, kita akan melakukan semua ini dengan lebih baik.
Birrul Walidain (Berbakti kepada Kedua Orang Tua)
Hadits di atas menjelaskan bahwa bertemu dengan kedua orang tua dalam keadaan masih hidup, atau bertemu dengan salah satunya dalam keadaan masih hidup adalah “cara gampang” untuk masuk surga. Caranya adalah dengan berbakti kepada mereka, atau istilah Al-Qur’an al-ihsan ilahima (berbuat yang terbaik kepada keduanya).
Ada banyak ayat dalam Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk berbuat baik pada keduanya, diantaranya adalah:
a. Pada ayat-ayat yang berisi keterangan tentang adanya sepuluh pihak yang menjadi kewajiban kita untuk memenuhi hak-hak mereka, yaitu pada surat An Nisa’ ayat 36.
b. Pada ayat-ayat yang berisi sepuluh wasiat, yaitu pada surat Al An’am ayat 151-153.
c. Pada ayat-ayat yang berisi tentang berbagai macam hikmah, yaitu pada surat Al Isra ayat 22-39.
Pada ketiga tempat ini, Allah selalu menempatkan “berbuat yang baik kepada kedua orangtua” pada urutan kedua. Artinya, dalam masalah pemenuhan hak, kedua orangtua menempati urutan kedua setelah hak Allah. Dal hal wasiat, kedua orang tua menempati urutan kedua setelah wasiat untuk memenuhi hak-hak Allah. Dalam hal hikmah, berbuat baik kepada kedua orang tua juga menempati urutan yang kedua setelah penjelasan tentang hikmah larang berbuat syirik dan kewajiban untuk beribadah kepada Allah.
Masa pasca Ramadhan ini, masa setelah Allah mengampuni dosa-dosa kita, alangkah tepatnya bila kita lanjutkan dengan upaya memperbaiki hubungan dengan semua orang yang memiliki hak atas diri kita. Dan yang pertama sekali perlu kita perbaiki hubungan kita-setelah Allah- adalah kedua orangtua kita.
Jika hal ini kita lakukan, maka kita telah membuka peluang untuk diri kita sendiri “dengan mudah” memasuki surga Allah.
Marilah kita makmum pada tradisi silaturrahim berlebaran dan ber-‘idul fitri untuk memperbaiki hubungan dengan semua pihak yang mempunyak hak atas diri kita, terutama kedua orangtua kita. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung dunia akhirat dalam hal ini. Amin.










